September 2006
Menelepon Dengan 3G Lebih Mudah
Layanan Generasi 3 (3G) sudah ada di depan mata.
Banyak yang berharap, tak sedikit yang optimis.
Apakah tidak terlalu cepat datangnya?
Apakah masyarakat akan bisa menjangkaunya? Segala hal
tentang 3G terasa begitu menarik, terutama bagi kita
di Indonesia yang belum bisa menikmatinya secara langsung.
Meski begitu, sebenarnya belum banyak yang paham betul apa
itu 3G atau bahkan belum ngeh sama sekali. Bagi yang sudah
ngeh, ada yang tidak sabar kepingin segera mencicipi
teknologi ini, tapi tak sedikit pula yang cenderung pesimis.
GPRS saja masih ngos-ngosan, apa iya 3G bisa lari kencang?
Apa pun aspirasi Anda, bersiap-siaplah menyambut serbuan
teknologi ini. Korea Selatan sudah memulainya sejak Oktober
tahun 2000 melalui operator SK Telecom yang memakai jaringan
CDMA2000 1X. Tak mau kalah, NTT DoCoMo dari Jepang menyusul
setahun kemudian menggunakan WCDMA. Pada awal tahun 2005 saja,
terhitung ada 125 operator di 56 negara yang sudah memanfaatkan
3G. Ini suatu bukti bahwa 3G sudah layak diadopsi di seluruh
dunia sebagai teknologi seluler masa depan. Bagaimana dengan
Indonesia?
Operator CDMA Mobile-8 sebenarnya sudah bermain di arena 3G
lewat aplikasi real time video streaming. Layanan semacam ini
adalah salah satu produk andalan 3G. Telkomsel juga sudah sejak
lama menawarkan teknologi EDGE yang kecepatan akses datanya
mampu menyaingi 3G. Soal lisensi, sudah ada dua operator yang
memegangnya meskipun ramai menuai kritikan yakni PT. Cyber Access
Communications dan PT. Natrindo Telepon Seluler (Lippo Telecom).
Jadi bisa dibilang baik pemerintah maupun operator kita sudah siap
menyongsong 3G meskipun entah kapan bisa segera terealisasi.
Sebenarnya apa sih hebatnya teknologi yang satu ini?
3G adalah singkatan dari generasi ketiga, suatu istilah untuk
standar teknologi internasional yang punya tujuan meningkatkan
efisiensi dan memperbaiki kinerja jaringan seluler. Jadi intinya,
3G menawarkan peningkatan aplikasi yang ada sekarang sehingga
aktivitas browsing di internet bisa lebih ngebut, kualitas panggilan
suara lebih oke, kirim-kiriman data lebih instan, dan masih banyak lagi.
Karena kecepatannya yang tinggi, orang menduga bahwa kedigdayaan
3G memang terletak pada fitur tersebut. Memang ada benarnya,
tapi kelebihannya bukan itu saja. “3G tidak hanya soal kecepatan
tinggi, tapi lebih kepada efisiensi spektrum,” tutur Yoseph Garo
dari Telkomsel. “Misalnya, ketika melakukan panggilan suara, pada
saat kecepatan kurang dari 100 kbps, paling efisien menggunakan
EDGE. Antara 100 hingga 384 kbps, CDMA lebih efisien. Nah, ketika
kecepatannya lebih dari 384 kbps, W-CDMA yang paling efisien.
Selain itu, W-CDMA juga punya kemampuan memisah-misahkan noise
sehingga kualitas suara yang dihasilkan jauh lebih baik.” Selain
kualitas, 3G juga berdampak cukup positif dalam hal tarif, terutama
untuk layanan panggilan atau suara. Ini bisa terjadi karena jaringan
3G menyediakan kapasitas suara yang lebih besar pada tarif yang lebih
rendah. Sebagai gambaran, pada GSM 2G tiap carrier-nya hanya menyediakan
3 kanal untuk suara (voice), sedangkan GSM 2,5G bisa membawa 7 kanal
dari 8 kanal per carrier. Nah, kapasitas W-CDMA bisa sampai 10 kali
lipatnya yakni 80 kanal sehingga jauh lebih efisien.
Daya tarik 3G yang paling kuat adalah content-nya yang serba canggih.
Coba saja tengok berbagai layanan 3G yang marak di Jepang dan Korea
Selatan seperti download musik, kartu kredit ala ponsel, dan nonton
televisi. Apakah provider di Indonesia sudah mampu menyediakannya?
Yoseph Garo mengungkapkan bahwa sudah ada beberapa content
provider dalam negeri yang siap ke arah sana. “Saat ini sudah ada
sekitar 170 content provider dan 1800 content. Mungkin kami akan
bekerja sama dengan content provider dari luar negeri juga. Tapi
pada masanya nanti, content provider kita akan terus meningkatkan
diri,” tutur Yoseph.
Soal tarif, belum ada operator yang berani buka kartu. Yang
pasti, karena produk yang dijual masih fresh from the oven alias
baru, harganya tidak bisa dipasang terlalu tinggi. Tetapi kalau
terlalu rendah, operator juga bisa rugi. Apalagi kalau sampai
perang banting harga yang marak terjadi belakangan ini terulang lagi.
Salah satu taktik jitu adalah menawarkan layanan dalam bentuk
paket dengan segmentasi yang jelas. Misalnya, layanan browsing
kecepatan tinggi di dunia maya tentunya paling cocok bagi pelaku
bisnis yang haus informasi. Sedangkan video telephony atau telepon
tatap-muka mungkin lebih sesuai bagi muda-mudi atau orang tua-anak
yang butuh melihat wajah mereka yang dikasihinya.
Mengingat operator masih butuh banyak waktu dan handset-nya juga
terbatas dan mahal, tampaknya kita masih harus sabar menunggu.